Tampilkan postingan dengan label TAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAMAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Menghilangkan Rasa Kantuk Saat Bekerja atau Belajar


Terserang kantuk saat bekerja atau belajar (membaca) merupakan hal yang sangat umum dialami oleh banyak orang. Sepengetahuan saya, belum ada tip yang cespleng untuk mengatasi problem rasa kantuk itu. Kalau pun ada, tip-tip juga masih subjektif sifatnya. Artinya, hanya pengalaman individual yang belum tentu cocok untuk orang lain.

Yang dimaksud kantuk di sini adalah rasa kantuk yang bukan karena tiga sebab utama yaitu: karena sakit, terlalu lelah dan kurang tidur. Siapa pun yang sakit, atau terlalu lelah memang dianjurkan untuk banyak istirahat atau tidur. Kantuk karena sakit adalah kantuk yang boleh jadi karena pengaruh obat yang diminum atau kondisi tubuh yang tidak fit.
Terkantuk-kantuk karena kurang tidur, itu wajar. Bekerja atau belajar dalam kondisi kurang tidur akan membawa rasa kantuk yang luar biasa. Kantuk karena kurang tidur itu wajar, tetapi kantuk karena cukup tidur, atau bahkan kelebihan tidur itu tidak wajar.
Sebab, tubuh kita hanya menuntut istirahat tidur minimal enam jam dalam dua puluh empat jam (sehari). Artinya tubuh kita sehat dengan tidur enam jam sehari. Maka apa bila kita tidur masih melebihi itu sebenarnya sebuah tindakan yang kurang ada manfaatnya bagi kesehatan tubuh.
Jika ada seseorang yang kantuk dan terus tidur karena jam tidurnya kurang dari enam jam itu wajar. Namun jika ada seseorang yang jam tidurnya sudah enam jam, tapi masih kantuk dan langsung tidur itu adalah godaan” setan yang terkutuk”. 







Tips yang “langsung” dapat dilakukan adalah :
1. Tariklah napas dalam dan pelan melalui hidung, kemudian lepaskan napas pelan melalui mulut. Lakukan pernapasan ini 3 kali. Kemudian …
2. Menarik napas dalam dan pelan lewat mulut, kemudian lepaskan napas pelan lewat hidung. Lakukan pernapasan ini 3 kali. Kemudian …
3. Menarik napas lewat hidung secara dalam dan pelan, kemudian lepaskan napas lewat hidung pelan. Lakukan pernapasan ini 3 kali.
Ketiga tips diatas adalah tips ‘langsung’ yang kita lakukan ketika tiba – tiba kita diserang kantuk. Namun umumnya ‘penyakit’ ngantuk dan malas ini umumnya sudah menjadi penyakit kambuhan, yang selalu ‘menyerang’ dalam kegiatan kita sehari – hari. Di bawah ini dituliskan tips – tips yang perlu anda ‘lakukan’ agar ‘penyakit’ kambuhan ini dalam hilang secara berangsur – angsur dan efektifitas anda baik dalam bekerja ataupun belajar sehari – hari dapat bertambah.
Tips – tips itu adalah :
1. Atur pola makan.
Syaraf otak (neuron) dalam menjalankan tugas rutinnya sangat membutuhkan energi yang sumbernya dari makanan yang kita konsumsi. Jenis dan kualitas makanan yang kita konsumsi berpengaruh terhadap kinerja otak (pikiran). Maka aturlah pola makan dengan makanan yang mudah dicerna sehingga suplay energi tidak telat. Bila kita mengkonsumsi makanan yang berat, terlalu berserat yang sulit dicerna, energi habis untuk mencerna bahan makanan, suplay energi ke syaraf bekurang sehingga kantuk datang menyerang (contohnya makan kangkung).
2. Asosiasikan/bayangkan apa yang diharapkan dari kegiatan bekerja atau belajar itu.
Misalkan : pendapatan (uang) yang tinggi atau skor yang tinggi misalnya. Tidak cukup hanya membayangkan, tapi harus diikuti oleh keinginan yang kuat untuk mendapatkannya. Tanpa keinginan yang kuat, emosi yang “membara” untuk memperolehnya, maka akan mudah terserang rasa kantuk. Sebab, salah satu hukum pikiran mengatakan bahwa “pikiran akan memberi apa yang diinginkan pemiliknya”. Bila pemiliknya meminta setengah hati, pikiran akan memberikan setengah hati pula. Artinya, pada saat kantuk dating dan karenan niatnya setengah hati, maka pikiran lantas welcome to kantuk!
3. Programlah pikiran bawah sadar Anda dengan cara self talk (bicara pada diri sendiri, membatin terus).
Salah satu cara untuk membuat program dalam pikiran bawah sadar adalah dengan cara self talk secara persisten. Self talk yang harus dilakukan adalah “Saya tidak akan tidur waktu bekerja” atau “Saya selalu terjaga dalam belajar!”. Lakukan sesering mungkin dan seintens mungkin hingga benar-benar menjadi bagian dalam pikiran bawah sadar. Bagian inilah nanti yang akan mengingatkan dengan keras saat Anda mulai terkantuk-kantuk. Bagian ini yang nanti akan “protes” bila Anda mulai berpihak pada rasa kantuk.
4. Aturlah posisi duduk siap untuk bekerja atau belajar.
Jangan sambil duduk bersandar/kepala disandarkan. Jangan pula sambil tiduran. Posisi duduk berpengaruh terhadap datangnya rasa kantuk. Kenapa posisi duduk berpengaruh terhadap datangnya kantuk? Posisi atu gerak tubuh mempengaruhi kondisi pikiran. Bila Anda duduk bersandar, kondisi pikiran terbawa bada kondisi rileks, atau kondisi siap untuk ngantuk/tidur.
5. Patahkan pola kantuk Anda.
Kantuk itu ada polanya. Meskipun pada saat kantuk datang pikiran bawah sadar segera mengingatkan untuk selalu terjaga, namun bila tidak ada keberanian dari Anda untuk mematahkan pola kantuk, maka rasa kantuklah yang menang. Bablas tidur…!
Salah satu caranya adalah begini. Begitu rasa kantuk datang, sudah mulai menguap, jangan lanjutkan dengan duduk bersandar. Cari aktifitas jeda, aktifitas pemutus agar kantuk terusir. Caranya macam-macam: bisa berdiri dan lakukan gerakan-gerakan ringan, seperti jalan-jalan sebentar, bikin kopi, atau jalan-jalan kecil di ruangan sekedar manyapa teman dan refresing. Hasilnya, tidak akan ngantuk lagi.
6. Yang juga cukup penting adalah : Tehnik mematahkan pola (pikir dan kebiasaan).
Sebab, hampir semua inovasi, penemuan baru, dan hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas, diawali dengan keberanian “mematahkan” pola lama, dan mengantinya dengan pola baru. Adalah tidak mungkin ingin mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi masih dengan cara (pola) pikir lama. Demikian halnya dengan pola kantuk yang pada akhirnya (hasilnya) tidur, maka sebelum kebablasan tidur, maka polanya harus diputus.
Tips – tips ini masih subjektif sifatnya. Artinya masih perlu banyak bukti tentang efektifitasnya. Namun, hemat saya, keberhasilan tip ini sangat tergantung pada sejauh mana Anda benar-benar mau membuang rasa kantuk setiap kali Anda terserang. Semakin kuat keinginan Anda untuk benar-benar mengalahkan kantuk, Anda akan berhasil. Selamat mencoba.

Senin, 25 April 2011

KETELADANAN DAN KOMUNIKASI EFEKTIF DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN PEJABAT PUBLIK



SEPENGGAL KISAH
Suatu kisah dalam riwayat masyhur sejarah Islam, pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam setelah hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama seribu empat ratus orang muslimin ingin menunaikan ‘umrah di Makkah sembari melihat kembali tanah air mereka yang sekian lama ditinggalkan. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha turut menyertai perjalanan beliau ini. Namun setiba beliau dan para sahabat di Dzul Hulaifah untuk berihram dan memberi tanda hewan sembelihan, kaum musyrikin Quraisy menghalangi kaum muslimin. Dari peristiwa ini tercetuslah perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu di antaranya berisi larangan bagi kaum muslimin memasuki Makkah hingga tahun depan. Betapa kecewanya para sahabat saat itu, karena mereka urung memasuki Makkah.

Usai menyelesaikan penulisan perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para sahabat, “Bangkitlah, sembelihlah hewan kalian, kemudian bercukurlah!” Namun tak satu pun dari mereka yang bangkit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi perintahnya hingga ketiga kalinya, namun tetap tak ada satu pun yang beranjak. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan menceritakan apa yang terjadi. Ummu Salamah pun memberikan gagasan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka melakukannya? Bangkitlah, jangan berbicara pada siapa pun hingga engkau  menyembelih hewan dan memanggil seseorang untuk mencukur rambutmu.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, kemudian segera melaksanakan usulan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Seketika itu juga, para sahabat yang melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih hewannya dan menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya serta merta bangkit untuk memotong hewan sembelihan mereka dan saling mencukur rambut, hingga seakan-akan mereka akan saling membunuh karena riuhnya.

REALITA KITA

Betapa seringnya kita menghadapi kenyataan seperti kisah di atas di dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah menghimbau kepada rakyat untuk berhemat, guru mengajak siswa mengerjakan suatu tugas pelajaran, manajer mengingatkan pegawainya untuk sungguh-sungguh bekerja. Tetapi tak selalu mereka mendapat respon yang menggairahkan dari pihak yang diajak. Bahkan tak jarang program pemerintah, himbauan atasan, nasehat orang tua dan guru, memicu pertentangan bahkan benturan fisik di antara mereka. 

Kendala paling ringan (tetapi tetap saja menghambat) untuk mengerjakan suatu kebaikan adalah keraguan. Yaitu, keraguan akan kesungguhan suatu perintah, himbauan atau program beserta kemanfaatannya. Hal ini kadang-kadang muncul karena ulah segelintir pejabat publik yang terekspos mengkhianati janji memperjuangkan kepentingan rakyat atau bawahan. 
 
Mengingat tingkat kepercayaan kepada pemerintah pada sebagian masyarakat saat ini sudah mencemaskan maka sudah saatnya siapa pun pemimpin di tengah masyarakat kita agar menyegarkan kembali komitmennya sebagai pengemban amanat penderitaan rakyat. Selanjutnya diharap juga kemampuan mereka untuk memelopori dan menjadi teladan bagi masyarakat. Dengan demikian  pesan yang dikomunikasikan dapat diterima dan dilaksanakan secara semestinya.

Senin, 11 April 2011

KRISIS, MUNGKINKAH TERATASI? (bagian ke-1 dari beberapa tulisan yang tak terbatasi)



Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Kalimat yang lantang diucapkan pembina upacara dan ditirukan dengan lebih lantang oleh sebagian para peserta (biasanya begitu) setiap upacara bendera hari Senin di sekolah saya. Kalimat yang tampaknya tak seratus persen dipahami oleh empunya suara. Buktinya masih banyak mereka yang secara sadar atau tidak sadar melakukan hal-hal yang bisa menggagalkan tercapainya kondisi yang dirumuskan sebagai sila kelima Dasar Negara RI tersebut.
Pertanyaannya adalah :
1.       Apakah yang dimaksud dengan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?
2.       Benarkah kita gagal mewujudkannya?
3.       Bagaimana usaha kita untuk mewujudkannya?

KEGAGALAN MEMAHAMI DASAR NEGARA
Pernahkah Anda meminta sembarang orang di tengah pasar untuk menyebutkan sila tertentu dari Pancasila Dasar Negara kita. Kemungkinan kalau tidak dicemooh sebagai orang kurang kerjaan , bisa juga Anda hanya akan menemui gelengan kepala orang tersebut karena tidak tahu. Jangankan mereka, anak sekolah bahkan, belum dijamin 100% cekatan menjawab dengan benar sila yang kita pinta.
Tahap mengerti saja belum sampai, apalagi menghayati sampai dengan mengamalkannya. Alhamdulillah kita hidup di negara yang berdasarkan Pancasila ini mendapat jaminan luas untuk mengamalkan ajaran agama. Dan nilai dasar dari masing-masing sila Pancasila itu sejalan dengan nilai universal dari agama yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia.
Kalau ada masyarakat kita beribadah dengan tekun, belum tentu karena mereka memahaminya sebagai pengamalan sila pertama, bisa jadi karena sudah menjadi keyakinan hati yang kuat bahwa manusia dan jin tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah, atau karena memang sudah jadi tradisi setempat. Kali lain ada warga masyarakat yang sangat cekatan menolong korban kecelakaan lalu lintas. Bukan prasyarat bahwa orang tersebut harus hapal bunyi sila kedua dari Pancasila  yang menghendaki bahwa  setiap orang harus diperlakukan secara adil dan martabat sebagai manusia, yang harus dijaga dan dihormati agar semakin sempurna potensi jasmani dan rohaninya sehingga orang itu mau menolong si korban.. Yang keterlaluan, ketika korban kecelakaan naik ke atas kasur rumah sakit, dompet yang ia bawa saat kecelakaan tak pernah datang menyusulnya. Bagaimana dengan persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial. (BERSAMBUNG)